M.Taufik/pendidikan
Sabtu, 09 Januari 2016
TEKNIK BUDIDAYA JAMBU METE
MAKALAH
JAMBU METE
Oleh:
M.
TAUFIK DARMAYANTO
NIM.
D1A1 13 028
(
SEP GENAP )
KONSENTRASI
SOSIAL EKONOMI
PROGRAM
STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2015
DAFTAR
ISI
COVER.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 3
1.3 Tujuan............................................................................................................
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Tinjauan Umum
Tanaman Jambu Mete........................................................ 4
2.2 Botani Tanaman
Jambu Mete....................................................................... 5
2.3 Morfologi Jambu
Mete................................................................................. 7
2.4 Syarat Tumbuh.............................................................................................. 8
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Teknik Budidaya Jambu Mete
3.2 Penanggulangan
OPT pada Jambu Mete
3.3 Panen
3.4 Penanganan
Pasca Panen
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................................. 17
B.
Saran............................................................................................................ 18
DAFTAR
PUSTAKA..................................................................................... 19
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jambu
mete (Annacardiumoccidentale L.) merupakan tanaman
yang serba guna. Disamping sebagai sumber pendapatan masyarakat, juga sangat
cocok digunakan dalam konservasi lahan keritis dan gersang, sehingga tanaman
jambu mete ini banyak didapatkan di daerah kering dan di kawasan bekas tambang
(Anonim, 2005).
Tanaman
jambu mete sangat prospektif untuk di kembangkan di Indonesia, karena memiliki
daya adaptasi yang sangat luas terhadap faktor lingkungan. Tanaman jambu mete
tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh serta menghasilkan buah walaupun
ditanam di daerah yang kering dan tandus (gersang).
Tanaman
ini sudah cukup lama dikenal di Indonesia, tetapi tanaman ini belum di
budidayakan secara intensif. Padahal hasil utama tanaman ini, merupakan salah
satu jenis makanan ringan yang banyak digemari serta merupakan penyedap rasa
produk-produk, seperti es krim dan coklat batangan. Buah semunya dapat
dimanfaatkan sebagai bahan olahan.
Menurut
Nunung ( 2000), penggunaan lahan kering untuk perkebunan dengan teknik
konservasi tanah dan air sebagai komponen pokok sistem pengolahannya, jenis
tanaman yang dikembangkan adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,
dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, mempunyai prospek pasar dan
pemasaran yang baik serta dapat meningkatkan nilai gizi masyarakat.
Tanaman
jambu mete mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan di lahan kering,
karena tanaman ini tergolong tanaman yang mudah menyesuaikan diri dengan
keadaan lingkungan sehingga tanaman ini sangat dianjurkan untuk di budidayakan.
Berdasarkan
uraian di atas, maka disusunlah makalah ini dengan judul budidaya tanaman jambu
mete.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana teknis Budidaya
Jambu Mete yang baik
1.2.2 Bagaimana cara
penaggulangan OPT pada Jambu Mete
1.2.3 Peran dan penanganan
pasca panen Tanaman Jambu Mete
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui cara budidaya jambu mete yang baik
1.3.2 Mengetahui cara penanggulangan OPT pada tanaman Jambu Mete
1.3.3 Mengetahui cara panen dan penanganan pasca panen tanaman jambu mete
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Tinjauan Umum Tanaman
Jambu Mete
Tanaman
jambu mete bukan tanaman asli Indonesia. beberapa ahli botani berpendapat bahwa
tanaman jambu mete ini berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini tumbuh secara
alamiah di lembah sungai Amazon bagaian Timur laut di Brazil. Dari negara asalnya
ini, tanaman jambu mete menyebar ke seluruh penjuru dunia terutama di
negara-negara Subtropis dan iklim tropis termasuk di Indonesia. (Bambang
Cahyono, 2005).
2.2 Botani Tanaman Jambu Mete
Menurut
Bambang Cahyono (2005), taksonomi tanaman jambu mete secara lengkap adalah
sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta.
Subdivisi
: Angiospermae.
Kelas
: Dicotyledoneae.
Ordo
: Sapindales
Famili
: Ancardiaceae
Genus
: Anacardium
Spechies
: Annacardium
occidentale L
2.3 Morfologi Jambu Mete
2.3.1 Akar
Tanaman
jambu mete memiliki akar tunggang dan akar serabut. akar tunggang menembus
tanah menuju pusat bumi sampai pada kedalaman 5 m lebih sedangkan akar-akar
serabut tumbuh menyebar dalam tanah secara horizontal (Pitojo, 2005).
2.3.2 Batang
Batang
tanaman jambu mete merupakan batang sejati, berkayu dan keras. batang tanaman
bercabang dan memiliki banyak ranting sehingga dapat membentuk mahkota yang
tinggi dan indah. Batang jambu mete bisa mencapai hingga 7-10 m.
2.3.3 Daun
Daun
jambu mete merupakan daun tunggal. Daun jambu mete tumbuh pada cabang dan
ranting secara berselang seling dan juga merupakan tempat berlangsungnya proses
asimilasi, daun jambu mete berbentuk bulat panjang hingga oval dan membulat
hingga merucing di ujungnya.
2.3.4 Bunga
Bunga
tanaman jambu mete tumbuh pada ujung tunas atau ranting yang baru terbentuk
sehingga buah muncul pada permukaan luar tajuk tanaman. Pembungaan tanaman
jambu mete dapat terjadi sepanjang tahun atan dua kali dalam setahun dan itupun
tergantung pada iklim. Bunga jambu mete memiliki bentuk yang beragam, misalnya
berbentuk piramida dan kerucut.
2.3. 5 Buah
Buah
jambu mete terdiri dari dua bagian, yaitu buah sejati dan buah semu.
2.4 Syarat Tumbuh
2.4.1
Temperatur
Tanaman jambu mete dapat hidup dan tumbuh di dataran
rendah ataupun dataran tinggi. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman
jambu mete adalah antara 170C-370C.
2.4.2
Iklim
Iklim merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman, dengan demikian iklim dalam kondisi optimum selama periode
pertumbuhan akan memberikan dampak yang baik pada pertumbuhan dan hasil
tanaman. Menurut Adisarwanto (2003), faktor iklim yang sangat berpengaruh
terhadap tanaman jambu mete adalah suhu, cahaya,dan curah hujan.
2.4.3
Suhu
Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jambu mete
berkisar antara 15-250C. dan suhu maksimum 35 0C, namun
tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila di tanam pada suhu 27 0C.
Curah hujan untuk budidaya tanaman jambu mete adalah pada daerah yang mempunyai
jumlah curah hujan antara 1000-2000 mm/th dengan 4-6 bulan kering. Pembungaan
tanaman lebih dipengaruhi oleh musim dari pada panjang hari. di kawasan yang
hanya mengalami satu kali musim kemarau, pembungaan hanya terjadi satu kali
yaitu pada awal musim kemarau.
2.4.4
Kelembaban Udara
Tingkat kelembapan udara yang cocok untuk tanaman jambu mete adalah
berkisar 70% – 80%. Namun, tanaman jambu mete masih cukup toleran pada tingkat
kelembapan udara antara 60% – 70%.
2.4.5
Penyinaran matahari
Penyinaran matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun sangat diperlukan
oleh tanaman jambu mete untuk pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif.
Selain itu, penyinaran matahari yang cukup sangat diperlukan untuk proses
fotosintesis tanaman.
2.4.6
Tanah
Jenis
tanah lempung berpasir atau ringan pasir. yang juga memungkinkan sistem
perakaran berkembang secara sempurna dan mampu menahan air sehingga tanaman
tetap cukup lembab pada musim kemarau atau pada pH 6,3-7,3, Bambang cahyono, (2005).
2.5 Kandungan Gizi
Kandungan Gizi Kacang mete, mentah |
|
|
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
|
|
|
Energi
|
2.314 kJ (553 kcal)
|
|
Karbohidrat
|
30.19 g
|
|
Gula
|
5.91 g
|
|
Serat pangan
|
3.3 g
|
|
Lemak
|
43.85 g
|
|
Protein
|
18.22 g
|
|
Thiamine (Vit. B1)
|
.42 mg (32%)
|
|
Riboflavin (Vit. B2)
|
.06 mg (4%)
|
|
Niacin (Vit. B3)
|
1.06 mg (7%)
|
|
Asam Pantothenat (B5)
|
.86 mg (17%)
|
|
Vitamin B6
|
.42 mg (32%)
|
|
Folat (Vit. B9)
|
25 μg (6%)
|
|
Vitamin C
|
.5 mg (1%)
|
|
Kalsium
|
37 mg (4%)
|
|
Besi
|
6.68 mg (53%)
|
|
Magnesium
|
292 mg (79%)
|
|
Fosfor
|
593 mg (85%)
|
|
Kalium
|
660 mg (14%)
|
|
Seng
|
5.78 mg (58%)
|
|
Persentase
merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
|
|
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Teknik Budidaya
Jambu Mete
Menurut Nunung (2000),
usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah bibit. Penanaman
bibit bisa berasal dari benih yang tumbuh dari biji yang ditanam langsung atau
yang telah disemaikan sebelumnya, setelah bibit tersebut sudah siap, maka langkah
yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut
3.1.1 Persiapan
lahan
Tanah dan lahan yang
akan digunakan untuk menanam jambu mete harus disiapkan sebulan bibit
siap ditanam. Untuk tanaman tandus dan tidak menggunakan tanaman sela, jarak
tanam adalah 5 x 5 m, kalau menggunakan tanaman sela jarak tanamny 7 x7 m.
Kemudian selanjutnya, membuat lubang tanam yang ukuran 30 x 30 x 30 x cm dan
biarkan selama 1 minggu setelah itu tanah bagian atas dicampur dengan pupuk
kandang dengan ukuran perbandingan 1 :
1 kemudian dimasukkan kembali kedalam tanah yang biarkan sampai penanaman
siap untuk dilakukan.
3.1.2 Waktu
tanam
Untuk bibit yang
berasal dari persemaian, pembungkus bibit yang berupa plastik, kaleng dan
lain-lainya dilepas pada saat sebelum penanaman. Setelah itu bibit dimasukkan
kedalam lubang yang sudah disiapkan .
3.1.3 Pemeliharaan
Setelah bibit sudah
ditanam, maka hal perlu diperhatikan adalah pemeliharaan. Pemeliharaan dapat
menjamin pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada saat umur 2-4 tahun tanaman
jambu mete biasanya berada pada tahapan masa kritis, maka sejak tanaman sudah ditanam
pada umur tersebut membutuhkan perawatan yang intensif. ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman jambu mete sebagai berikut
·
Penyiangan dan
Penggemburan Tanah
Tanah disekitar jambu mete perlu
disiangi yang bertujuan untuk memberantas tumbuh-tumbuhan yang mengganggu
pertumbuhan tanaman yang diusahakan supaya tidak terjadi persaingan dalam hal
penggunaan unsur hara.
·
Penyulaman dan
Penjarangan
Apabila ada tanaman yang mati atau
tanaman yang pertumbuhannya sangat lambat perlu dilakukan penyulaman yang
bertujuan untuk mempertahankan jumlah popilasi pohon yang sesuai dengan yang
diinginkan. Penyulaman hanya dapat dilakukan sebelum tanaman jambu mete
lainyang tumbuh normal berumur 3 tahun karena setelah melebihi umur tersebut
pertumbuhan tanaman sulaman mengalami kemunduran.
Penjarangan dilakukan untuk mengurangi
jumlah populasi tanaman yang juga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan
produktifitas yang tinggi, Penjarangan dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan.
3.1.4
Pemupukan
Tanaman jambu mete
mampu tumbuh dan menghasilkan buah pada tanah kritis tanpa pemupukan, namun memproleh
tingkat pertumbuhan dan produksi buah yang memuaskan tanaman ini memerlukan
pupuk sebagai sumber unsur hara yang akan diserap oleh akar tanaman .
Pemberian pupuk kandang dimulai sejak sebelum penanaman. Sebaiknya disaat
tanaman masih kecil, pemupukan dengan pupuk kandang itu diulangi barang dua
kali setahun. Caranya dengan menggali lubang sekitar batang, sedikit diluar
lingkaran daun. pupuk atau kompos dimasukkan kedalam lubang galian itu.
Pemupukan berikutnya dilakukan dengan menggali lubang, diluar lubang
sebelumnya. Pemberian pupuk kandang dan kompos, kecuali dimaksudkan untuk
memperbaiki keadaan fisik tanah.
3.1.5
Pengairan
Bibit tanaman muda
yang baru ditanam atau dipindahkan ke tempat persemaian sangat membutuhkan air.
akan tetapi tanaman jambu mete tidak bisa jika ada genangan air pada
areal penanaman.
3.1.6
Pemangkasan
Untuk membentuk cabang
yang bagus dan tajuk yang luas perlu dilakukan pemangkasan. Ada dua jenis
Pemangkasan yaitu : 1). Pemangkasan bentuk yaitu pemangkasan yang dilakukan
selama tanaman berupa bibit, dengan cara menghilangkan tunas-tunas samping
sehingga batang utama tumbuh tegak. 2). Pemangkasan pemeliharaan yaitu
pemangkasan setelah tanaman berproduksi yang bertujuan untuk menghilangkan
cabang dan ranting yang kering atau yang sudah mati.
3.2
Pengendalian Hama Dan Penyakit
3.2.1. Hama
Hama
yang sering menyerang tanaman jambu mete antara lain hama pengisap daun, nyamuk
daun, penggerek daun, penggulung daun, ulat kipat, ulat hijau, dan ulat perusak
bunga. Insektisida yang dianjurkan antara lain: Tamaron, Folidol, Lamnate,
Basudin dan Dimecron dengan dosis 2cc atau 2 gram/liter air.
3.4.1.1 Ulat kipat
(Cricula trisfenestrata Helf)
o
Pada tanaman terlihat kepompong
bergelantungan. Ulat berwarna hitam bercak-bercak putih, kepala dan ekor warna
merah nyala, seluruh tubuhnya ditumbuhi.rambut putih. Telurnya berwarna putih,
oval. Fase pupa berlangsung 4 minggu, fase kepompong 3-5 minggu.
o
Gejala: daun-daun tidak utuh dan
terdapat bekas gigitan; pada serangan yang hebat, daun dapat habis sama sekali,
tetapi tanaman tidak mati; tanaman tidak akan menghasilkan buah, dan baru pulih
setelah 18 bulan.
o
Pengendalian: dengan menyemprotkan
insektisida Symbush 50 EC atau Pumicidin dengan dosis 1,0 - 1,5 ml/liter air
3.4.1.2
Helopeltis sp.
o Tubuh imago
berwarna hitam, kecuali abdomen bagian belakang sebelah bawah berwarna putih.
o Gejala: pada
tunas-tunas daun muda, tangkai daun terdapat bercak-bercak hitam tidak merata;
daun dan ranting segera mengering dan diikuti dengan gugurnya daun.
o Pengendalian:
melalui teknik bercocok tanam, misalnya dengan mengurangi tanaman inang atau
tanaman peneduh; dengan insektisida Agroline dengan dosis 0,2 % atau Thiodan
dengan dosis 0,02 %.
3.4.1.3
Ulat penggerek batang (Plocaederus
feeeugineus L)
o
Gejala: mula-mula daun berubah warna
menjadi kuning; lama-kelamaan daun akan gugur/rontok dan tanaman dapat mati.
o Pengendalian:
dengan menangkap ulat penggerek tersebut; dengan mengolesi sekitar permukaan
batang/akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram/liter air).
3.4.1.4 Hama penggerek
buah dan biji (Nephoteryx sp.)
o
Gejala: buah muda yang diserang hama
ini akan berjatuhan dan kering, sedang buah tua isinya belum penuh.
o
Pengendalian: belum didapatkan cara
yang tepat, sebab larva instar yang jatuh terakhir dan menjadi pupa di tanah,
maka hama dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi, yaitu dengan
menggunakan Karbaril 0,15%.
3.2.2. Penyakit
Penyakit
yang sering menyerang adalah penyakit busuk batang dan akar, penyakit bunga dan
putik, dan Antracnossis. Penyakit ini dapat dibasmi dengan Fungisida Zinc
Carmamate, Captacol dan Theophanatea.
3.2.2.1 Penyakit layu
o
Penyakit ini muncul bila tempat
pembibitan terlalu lembab dan jenuh air.
o
Penyebab: jamur Phytophthora palmivora,
Fusarium sp. dan Phytium sp.
o
Gejala: bila tanaman tiba-tiba menjadi
layu.
o
Pengendalian: dengan memperbaiki
lingkungan pembibitan, seperti memperdalam parit pembuangan air dan mengurangi
naungan yang terlalu rapat; dengan penyemprotan Dithane M 45 secara teratur dan
terencana.
3.2.2.2
Daun layu dan kering
o
Penyebab: bakteri Phytophthora
solanacearum.
o
Gejala: secara mencolok daun-daun
berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu gugur; beberapa cabang meranggas
dan tanaman akhirnya mati; jaringan kayu pada batang yang terserang di bawah
kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk.
o
Pengendalian: tanaman yang terserang
penyakit ini harus dibongkar sampai ke akar-akarnya supaya penyakit tidak
menular ke tanaman lain; pencegahan harus secara terpadu; bibit dan alat-alat
pertanian harus bebas dari kontaminasi bakteri dan karantina tanaman dilakukan
secara konsekuen.
3.2.2.3
Bunga dan buah busuk
o Penyebab:
Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Pestalotiopsis sp. --> Gejala: kulit
buah hitam dan busuk.
o Penyebab:
Pestalotiopsis sp, Colletrichum sp, Pestalotiopsis sp., Botryodiplodia sp.,
Fusarium sp. --> Gejala: permukaan kulit buah & kulit biji, kering
kecoklatan & pecah-pecah, bunga & tangkainya busuk.
o Penyebab :
Botryodiplodia sp. , Fusarium sp., Pestalotiopsis sp. -- > Gejala: kulit
biji busuk dan hitam.
o
Pengendalian: perlu dilakukan secara
terpadu; untuk memberantas jamur parasit ini beberapa fungisida yang efektif
adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride.
3.3
Panen
Panen buah mete umumnya dilakukan dengan memetik buah-buah yang telah
masak dipohon (selektif) atau memungut buah-buah yang telah gugur di tanah tetapi sudah matang (lelesan). Pemetikan buah
mete ini tidak dapat dilakukan sekaligus karena buah mete tidak masak secara
bersamaan, pemetikan dapat dilakukan setiap 3 – 5 selama 2 – 3 bulan tergantung
pada banyaknya buah. Buah-buah yang telah mencapai derajat kemasakan yang
optimal ditandai dengan penampakan fisik buah semu seperti buah semu berwarna
merah cerah jingga atau kuning, daging buah semu jika dipijit sudah agak terasa
lunak, dan buah telah berumur 60 – 70 hari sejak bunga mekar. Perkiraan panen pada umur 3-4 Thn 2-3 kg/pohon dan meningkat 15-20 pada
umur 20-30 thn.
3.4
Penanganan Pasca Panen
3.4.1 Pemisahan
buah dari tangkai
Biji mete harus dipisahkan dari buah semunya. Cara memisahkannya biji mete
cukup dengan cara dipuntir kemudian ditaruh di tempat terpisah, setelah itu
biji mete tadi dicuci untuk membersihkan segala kotoran yang menempel.
3.4.2 Sortasi dan grading jambu mete
Biji-biji mete yang telah dipisahkan dari buah semunya harus segera
disortasi yaitu pemisahan antara biji yang baik dan biji mete yang rusak dan
sekaligus dilakukan grading yaitu pengelompokkan biji mete yang berukuran besar
dan kecil. Tujuan keduanya adalah untuk menyeragamkan ukuran agar memudahkan
proses pelembapan, penggorengan dan pemecahan.
3.4.3
Pengeringan biji mete
Biji mete yang telah dipetik masih memiliki kadar air sekitar 25%, oleh
karena itu biji mete yang telah di panen tersebut segera dikeringkan untuk
mempertahankan kualitas biji. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara dijemur
di bawah panas matahari dengan dihamparkan di lantai jemur, pengeringan biji
mete dilakukan hingga kadar airnya mencapai 5 %.
3.4.4
Penyimpanan biji mete glondongan
Biji-biji mete yang telah kering harus segera disimpan dengan baik agar
kualitas biji tersebut tetap baik. hal-hal yang harus diperhatikan dalam
menyimpan biji mete gelondong adalah suhu udara dan kelembapan udara di dalam
tempat penuimpanan.
3.4.5
Pelembapan biji mete
Biji mete yang telah dikeringkan dan disimpan umumnya memiliki kadar air
5%, biji tersebut bila akan dipecah untuk diambil kacang metenya harus digoreng
terlebih dahulu, namun sebelum di goring biji mete yang memiliki kadar air
rendah harus dinaikkan lagi kadar airnya hingga batas optimum sekitar 16%,
peningkatan kadar air biji mete dilakukan dengan cara pelembapan. Lama proses
pelembapan bervariasi antara 24 – 48 jam (1 – 2 hari) tergantung pada
besarnyaukuran biji mete, kadar air dikehendaki,dan proses pelembaban yang
digunakan.
3.4.6
Pengambilan kacang mete
Kacang mete merupakan bagian yang dikonsumsi. untuk mengambil kacang mete
kulit mete dipecah atau dikupas. Pengupasan kulit mete dapat dilakukan secara
mekanis, semi mekanis, atau secara manual.
3.4.7
Pengeringan kacang mete
Kacang mete yang telah dipisahkan dari kulitnya dikeringkan lagi hingga
kadar air mencapai sekitar 3%.Pengeringgan kacang mete ini bertujuan untuk
memudahkan pengelupasan kulit dari kacang mete dan mencegah dari serangan
jamur,danhama,serta meningkatkan daya tahan.
3.4.8
Pengupasan kulit ari
Pengupasan kulit ari kacang mete dilakukan segera setelah
pengeringaan. Pengupasan kulit ari kacang mete yang dilakukan secara manual
dapat dikerjakan dengan penggesekan menggunakan jari tangan secara hati-hati
atau menggunakan pisau jika sulit dilakukan dengan tangan.
3.4.9
Pelembapan mete
Sebelum dikemas kacang mete yang telah dikeringkan dengan kadar air 3%
harus dilembabkan hingga mencapai kadar air 5%.Pelembapan kacang mete dilakukan
dengan menyimpannya di dalam ruang pelembab secara beberapa jam.
3.4.10
Pengemasan
Untuk mencegah kerusakan kacang mete perlu dikemas dengan baik. Pengemasan
selain melindungi kacang mete dari kerusakan serangga, bertujuan untuk
melindungi kerusakan mekanis karena penggangkutan atau kerusakan fisiologis
karena pengaruh lingkungan seperti suhu dan kelembapan.
3.4.11
Penyimpan kacang mete
Dalam penyimpanan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti ruang
gudang penyimpangan harus selalu bersih,memiliki konstruksi yang
kuat,pintu-pintu yang rapat,memiliki ventilasi, memiliki penerangan,penantaan
peti kemas harus disusun secara teratur,suhu udara dalam gudang di usahakan selalu
konstan (30oC- 370C).
3.4.12
Pemasaran hasil
Pasar kacang mete sangat luas mulai dari tingkat rumah tangga hingga
tingkat industri makanan. Faktor penting dalam memasarkan hasil panen kacang
mete adalah mendapatkan harga
yang tinggi. Pemasaran kacang mete dengan jalur pemasaran yang pendek dapat
menguntungkan semua pihak yaitu petani produsen, lembaga pemasaran, dan
konsumen.
BAB
IV
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Menurut
Nunung (2000), usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah: 1) persiapan lahan; 2) waktu tanam; 3) pemeliharaan;
4) pemupukan; 5) pengairan dan; 6) pemangkasan.
Adapun pengendalian hama dan
penyakit pada tanaman jambu mete antara lain:
1.
Hama : 1) Ulat
Kipat dapat dikendalikan dengan insektisida symbush 50 EC atau pemicidin; 2)
Helopeltis dapat dikendalikan dengan teknik bercocok tanam; 3) Ulat Penggerek
Batang dapat dikendalikan dengan cara ditangkap atau diolesi larutan BMC; 4)
Penggerek Buah dan Biji saat ini belum didapat cara pengendaliannya namun hama
ini dapat dibasmi secara mekanis dan kimiawi.
2.
Penyakit : 1)
Penyakit Layu dapat dikendalikan dengan
memperbaiki lingkungan pembibitan atau penyemprotan Dithane M45; 2) Daun
Layu dan Kering dapat dikendalikan dengan cara membongkar tanaman sampai ke
akar-akarnya supaya tidak menular ke taman lain; 3) Bunga dan Buah Busuk dalam
pengendaliannya perlu dilakukan secara terpadu.
Panen buah mete umumnya dilakukan dengan memetik buah-buah
yang telah masak atau memungut buah-buah yang telah gugur (matang) dari pohonnya. Buah-buah
yang telah mencapai derajat kemasakan yang optimal ditandai dengan penampakan
fisik dan
buah telah berumur 60 – 70 hari sejak bunga mekar.
Untuk penenganan pasca panen
ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan adalah: 1) Pemisahan Buah dari
Tangan; 2) Sortasi dan Grading Jambu Mete; 3) Pengeringan Biji Mete; 4)
Penyimpanan Biji Mete Gelondongan; 5) Pelembapan Biji Mete; 6) Pengambilan
Kacang Mete; 7) Pengeringan Kacang Mete; 8) Pengupasan Kulit Ari; 9) Pelembapan
Mete; 10) Pengemasan; 11) Penyimpanan Kacang Mete dan; 12) Pemasaran Hasil.
5.2 Saran
Tanaman jambu mete memiliki
potensi untuk dibudidayakan karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi
sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani serta menjadi konservasi tanah
dan air. Disarankan agar dilakukan praktek
tentang budidaya jambu mete dengan pemberian pupuk organik.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2005. Teknik Budidaya JambuMete.
Lokakarya,
Bandung.
Cahyono B, 2005. Manfaat Jambu Mete. Tarat, Baandung.
Nunug, 2000. Budidaya Jambu Mete. Bina Aksarah, Jakarta.
Pitojo, 2005. Konserfasi lahan. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Sarwanto Adi, 2003. Meningkatkan Produksi
Kacang-Kacangan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)