Sabtu, 09 Januari 2016

LAPORAN PRAKTEK EKONOMI TERAPAN DALAMA PERTANIAN

TEKNIK BUDIDAYA JAMBU METE



MAKALAH

JAMBU METE






Oleh:
M. TAUFIK DARMAYANTO
NIM. D1A1 13 028
( SEP GENAP )










KONSENTRASI SOSIAL EKONOMI
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
DAFTAR ISI
COVER.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.............................................................................................. 1
1.2  Rumusan Masalah......................................................................................... 3
1.3  Tujuan............................................................................................................

BAB II Tinjauan Pustaka
2.1  Tinjauan Umum Tanaman Jambu Mete........................................................ 4
2.2  Botani Tanaman Jambu Mete....................................................................... 5
2.3  Morfologi Jambu Mete................................................................................. 7
2.4  Syarat Tumbuh.............................................................................................. 8

BAB III PEMBAHASAN
3.1  Teknik Budidaya Jambu Mete
3.2  Penanggulangan OPT pada Jambu Mete
3.3  Panen
3.4  Penanganan Pasca Panen
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................. 17
B.     Saran............................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 19


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Jambu mete (Annacardiumoccidentale L.) merupakan tanaman yang serba guna. Disamping sebagai sumber pendapatan masyarakat, juga sangat cocok digunakan dalam konservasi lahan keritis dan gersang, sehingga tanaman jambu mete ini banyak didapatkan di daerah kering dan di kawasan bekas tambang (Anonim, 2005).
Tanaman jambu mete sangat prospektif untuk di kembangkan di Indonesia, karena memiliki daya adaptasi yang sangat luas terhadap faktor lingkungan. Tanaman jambu mete tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh serta menghasilkan buah walaupun ditanam di daerah yang kering dan tandus (gersang).
Tanaman ini sudah cukup lama dikenal di Indonesia, tetapi tanaman ini belum di budidayakan secara intensif. Padahal hasil utama tanaman ini, merupakan salah satu jenis makanan ringan yang banyak digemari serta merupakan penyedap rasa produk-produk, seperti es krim dan coklat batangan. Buah semunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan.
Menurut Nunung ( 2000), penggunaan lahan kering untuk perkebunan dengan teknik konservasi tanah dan air sebagai komponen pokok sistem pengolahannya, jenis tanaman yang dikembangkan adalah tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak, mempunyai prospek pasar dan pemasaran yang baik serta dapat meningkatkan nilai gizi masyarakat.
Tanaman jambu mete mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan di lahan kering, karena tanaman ini tergolong tanaman yang mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sehingga tanaman ini sangat dianjurkan untuk di budidayakan.
Berdasarkan uraian di atas, maka disusunlah makalah ini dengan judul budidaya tanaman jambu mete.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1    Bagaimana teknis Budidaya Jambu Mete yang baik
1.2.2    Bagaimana cara penaggulangan OPT pada Jambu Mete
1.2.3    Peran dan penanganan pasca panen Tanaman Jambu Mete
1.3  Tujuan
1.3.1    Mengetahui cara budidaya jambu mete yang baik
1.3.2    Mengetahui cara penanggulangan OPT pada tanaman Jambu Mete
1.3.3    Mengetahui cara panen dan penanganan pasca panen tanaman jambu mete


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum Tanaman Jambu Mete

Tanaman jambu mete bukan tanaman asli Indonesia. beberapa ahli botani berpendapat bahwa tanaman jambu mete ini berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini tumbuh secara alamiah di lembah sungai Amazon bagaian Timur laut di Brazil. Dari negara asalnya ini, tanaman jambu mete menyebar ke seluruh penjuru dunia terutama di negara-negara Subtropis dan iklim tropis termasuk di Indonesia. (Bambang Cahyono, 2005).

2.2 Botani Tanaman Jambu Mete

Menurut Bambang Cahyono (2005), taksonomi tanaman jambu mete secara lengkap adalah sebagai berikut :
Divisi                  : Spermatophyta.
Subdivisi            : Angiospermae.
Kelas                  : Dicotyledoneae.
Ordo                   : Sapindales
Famili                 : Ancardiaceae
Genus                 : Anacardium
Spechies             : Annacardium occidentale L

2.3 Morfologi Jambu Mete

2.3.1  Akar

Tanaman jambu mete memiliki akar tunggang dan akar serabut. akar tunggang menembus tanah menuju pusat bumi sampai pada kedalaman 5 m lebih sedangkan akar-akar serabut tumbuh menyebar dalam tanah secara horizontal (Pitojo, 2005).
2.3.2   Batang

Batang tanaman jambu mete merupakan batang sejati, berkayu dan keras. batang tanaman bercabang dan memiliki banyak ranting sehingga dapat membentuk mahkota yang tinggi dan indah. Batang jambu mete bisa mencapai hingga 7-10 m.

2.3.3  Daun

Daun jambu mete merupakan daun tunggal. Daun jambu mete tumbuh pada cabang dan ranting secara berselang seling dan juga merupakan tempat berlangsungnya proses asimilasi, daun jambu mete berbentuk bulat panjang hingga oval dan membulat hingga merucing di ujungnya.

2.3.4  Bunga

Bunga tanaman jambu mete tumbuh pada ujung tunas atau ranting yang baru terbentuk sehingga buah muncul pada permukaan luar tajuk tanaman. Pembungaan tanaman jambu mete dapat terjadi sepanjang tahun atan dua kali dalam setahun dan itupun tergantung pada iklim. Bunga jambu mete memiliki bentuk yang beragam, misalnya berbentuk piramida dan kerucut.

2.3. 5 Buah

Buah jambu mete terdiri dari dua bagian, yaitu buah sejati dan buah semu.
2.4  Syarat Tumbuh

2.4.1        Temperatur

Tanaman jambu mete dapat hidup dan tumbuh di dataran rendah ataupun dataran tinggi. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu mete adalah antara 170C-370C.

2.4.2        Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, dengan demikian iklim dalam kondisi optimum selama periode pertumbuhan akan memberikan dampak yang baik pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Menurut Adisarwanto (2003), faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap tanaman jambu mete adalah suhu, cahaya,dan curah hujan.

2.4.3        Suhu

Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman jambu mete berkisar antara 15-250C. dan suhu maksimum 35 0C, namun tanaman ini akan tumbuh baik dan produktif bila di tanam pada suhu 27 0C. Curah hujan untuk budidaya tanaman jambu mete adalah pada daerah yang mempunyai jumlah curah hujan antara 1000-2000 mm/th dengan 4-6 bulan kering. Pembungaan tanaman lebih dipengaruhi oleh musim dari pada panjang hari. di kawasan yang hanya mengalami satu kali musim kemarau, pembungaan hanya terjadi satu kali yaitu pada awal musim kemarau. 

2.4.4        Kelembaban Udara

Tingkat kelembapan udara yang cocok untuk tanaman jambu mete adalah berkisar 70% – 80%. Namun, tanaman jambu mete masih cukup toleran pada tingkat kelembapan udara antara 60% – 70%.
2.4.5        Penyinaran matahari

Penyinaran matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun sangat diperlukan oleh tanaman jambu mete untuk pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan generatif. Selain itu, penyinaran matahari yang cukup sangat diperlukan untuk proses fotosintesis tanaman.

2.4.6        Tanah

Jenis tanah lempung berpasir atau ringan pasir. yang juga memungkinkan sistem perakaran berkembang secara sempurna dan mampu menahan air sehingga tanaman tetap cukup lembab pada musim kemarau atau pada pH 6,3-7,3, Bambang cahyono, (2005).

2.5  Kandungan Gizi

Kandungan Gizi Kacang mete, mentah

Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi
2.314 kJ (553 kcal)
Karbohidrat
30.19 g
Gula
5.91 g
Serat pangan
3.3 g
Lemak
43.85 g
Protein
18.22 g
Thiamine (Vit. B1)
.42 mg (32%)
Riboflavin (Vit. B2)
.06 mg (4%)
Niacin (Vit. B3)
1.06 mg (7%)
Asam Pantothenat (B5)
.86 mg (17%)
Vitamin B6
.42 mg (32%)
Folat (Vit. B9)
25 μg (6%)
Vitamin C
.5 mg (1%)
Kalsium
37 mg (4%)
Besi
6.68 mg (53%)
Magnesium
292 mg (79%)
Fosfor
593 mg (85%)
Kalium
660 mg (14%)
Seng
5.78 mg (58%)

Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.


BAB III
PEMBAHASAN

3.1       Teknik Budidaya Jambu Mete

Menurut Nunung (2000), usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah bibit. Penanaman bibit bisa berasal dari benih yang tumbuh dari biji yang ditanam langsung atau yang telah disemaikan sebelumnya, setelah bibit tersebut sudah siap, maka langkah yang harus diperhatikan adalah  sebagai berikut

3.1.1    Persiapan lahan

Tanah dan lahan yang akan digunakan untuk menanam jambu mete harus disiapkan  sebulan bibit siap ditanam. Untuk tanaman tandus dan tidak menggunakan tanaman sela, jarak tanam adalah 5 x 5 m, kalau menggunakan tanaman sela jarak tanamny 7 x7 m. Kemudian selanjutnya, membuat lubang tanam yang ukuran 30 x 30 x 30 x cm dan biarkan selama 1 minggu setelah itu tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang dengan ukuran perbandingan  1 : 1  kemudian dimasukkan kembali kedalam tanah yang biarkan sampai penanaman siap untuk dilakukan.

3.1.2    Waktu tanam

Untuk bibit yang berasal dari persemaian, pembungkus bibit yang berupa plastik, kaleng dan lain-lainya dilepas pada saat sebelum penanaman. Setelah itu bibit dimasukkan kedalam lubang yang sudah disiapkan .

3.1.3    Pemeliharaan

Setelah bibit sudah ditanam, maka hal perlu diperhatikan adalah pemeliharaan. Pemeliharaan dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada saat umur 2-4 tahun tanaman jambu mete biasanya berada pada tahapan masa kritis, maka sejak tanaman sudah ditanam pada umur tersebut membutuhkan perawatan yang intensif. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman jambu mete sebagai berikut

·         Penyiangan dan Penggemburan Tanah

Tanah disekitar jambu mete perlu disiangi yang bertujuan untuk memberantas tumbuh-tumbuhan yang mengganggu pertumbuhan tanaman yang diusahakan supaya tidak terjadi persaingan dalam hal penggunaan unsur hara.

·         Penyulaman dan Penjarangan

Apabila ada tanaman yang mati atau tanaman yang pertumbuhannya sangat lambat perlu dilakukan penyulaman yang bertujuan untuk mempertahankan jumlah popilasi pohon yang sesuai dengan yang diinginkan. Penyulaman hanya dapat dilakukan sebelum tanaman jambu mete lainyang tumbuh normal berumur 3 tahun karena setelah melebihi umur tersebut pertumbuhan tanaman sulaman mengalami kemunduran.
Penjarangan dilakukan untuk mengurangi jumlah populasi tanaman yang juga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas yang tinggi, Penjarangan dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan.

3.1.4        Pemupukan

Tanaman jambu mete mampu tumbuh dan menghasilkan buah pada tanah kritis tanpa pemupukan, namun memproleh tingkat pertumbuhan dan produksi buah yang memuaskan tanaman ini memerlukan pupuk sebagai sumber unsur hara yang akan diserap oleh akar tanaman .
Pemberian pupuk kandang dimulai sejak sebelum penanaman. Sebaiknya disaat tanaman masih kecil, pemupukan dengan pupuk kandang itu diulangi barang dua kali setahun. Caranya dengan menggali lubang sekitar batang, sedikit diluar lingkaran daun. pupuk atau kompos dimasukkan kedalam lubang galian itu. Pemupukan berikutnya dilakukan dengan menggali lubang, diluar lubang sebelumnya. Pemberian pupuk kandang dan kompos, kecuali dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan fisik tanah.

3.1.5        Pengairan

Bibit tanaman muda yang baru ditanam atau dipindahkan ke tempat persemaian sangat membutuhkan air. akan tetapi tanaman jambu mete tidak bisa jika ada genangan air  pada areal penanaman.

3.1.6        Pemangkasan

Untuk membentuk cabang yang bagus dan tajuk yang luas perlu dilakukan pemangkasan. Ada dua jenis Pemangkasan yaitu : 1). Pemangkasan bentuk yaitu pemangkasan yang dilakukan selama tanaman berupa bibit, dengan cara menghilangkan tunas-tunas samping sehingga batang utama tumbuh tegak. 2). Pemangkasan pemeliharaan yaitu pemangkasan setelah tanaman berproduksi yang bertujuan untuk menghilangkan cabang dan ranting yang kering atau yang sudah mati.

3.2              Pengendalian Hama Dan Penyakit

3.2.1.   Hama

Hama yang sering menyerang tanaman jambu mete antara lain hama pengisap daun, nyamuk daun, penggerek daun, penggulung daun, ulat kipat, ulat hijau, dan ulat perusak bunga. Insektisida yang dianjurkan antara lain: Tamaron, Folidol, Lamnate, Basudin dan Dimecron dengan dosis 2cc atau 2 gram/liter air.


3.4.1.1  Ulat kipat (Cricula trisfenestrata Helf)

o   Pada tanaman terlihat kepompong bergelantungan. Ulat berwarna hitam bercak-bercak putih, kepala dan ekor warna merah nyala, seluruh tubuhnya ditumbuhi.rambut putih. Telurnya berwarna putih, oval. Fase pupa berlangsung 4 minggu, fase kepompong 3-5 minggu.
o   Gejala: daun-daun tidak utuh dan terdapat bekas gigitan; pada serangan yang hebat, daun dapat habis sama sekali, tetapi tanaman tidak mati; tanaman tidak akan menghasilkan buah, dan baru pulih setelah 18 bulan.
o   Pengendalian: dengan menyemprotkan insektisida Symbush 50 EC atau Pumicidin dengan dosis 1,0 - 1,5 ml/liter air

3.4.1.2  Helopeltis sp.

o   Tubuh imago berwarna hitam, kecuali abdomen bagian belakang sebelah bawah berwarna putih.
o   Gejala: pada tunas-tunas daun muda, tangkai daun terdapat bercak-bercak hitam tidak merata; daun dan ranting segera mengering dan diikuti dengan gugurnya daun.
o   Pengendalian: melalui teknik bercocok tanam, misalnya dengan mengurangi tanaman inang atau tanaman peneduh; dengan insektisida Agroline dengan dosis 0,2 % atau Thiodan dengan dosis 0,02 %.

3.4.1.3  Ulat penggerek batang (Plocaederus feeeugineus L)

o   Gejala: mula-mula daun berubah warna menjadi kuning; lama-kelamaan daun akan gugur/rontok dan tanaman dapat mati.
o   Pengendalian: dengan menangkap ulat penggerek tersebut; dengan mengolesi sekitar permukaan batang/akar dengan larutan BMC 1-2% (20 gram/liter air).


3.4.1.4  Hama penggerek buah dan biji (Nephoteryx sp.)

o   Gejala: buah muda yang diserang hama ini akan berjatuhan dan kering, sedang buah tua isinya belum penuh.
o   Pengendalian: belum didapatkan cara yang tepat, sebab larva instar yang jatuh terakhir dan menjadi pupa di tanah, maka hama dapat diberantas secara mekanis atau kimiawi, yaitu dengan menggunakan Karbaril 0,15%.

3.2.2.   Penyakit

Penyakit yang sering menyerang adalah penyakit busuk batang dan akar, penyakit bunga dan putik, dan Antracnossis. Penyakit ini dapat dibasmi dengan Fungisida Zinc Carmamate, Captacol dan Theophanatea.

3.2.2.1  Penyakit layu

o   Penyakit ini muncul bila tempat pembibitan terlalu lembab dan jenuh air.
o   Penyebab: jamur Phytophthora palmivora, Fusarium sp. dan Phytium sp.
o   Gejala: bila tanaman tiba-tiba menjadi layu.
o   Pengendalian: dengan memperbaiki lingkungan pembibitan, seperti memperdalam parit pembuangan air dan mengurangi naungan yang terlalu rapat; dengan penyemprotan Dithane M 45 secara teratur dan terencana.

3.2.2.2  Daun layu dan kering

o   Penyebab: bakteri Phytophthora solanacearum.
o   Gejala: secara mencolok daun-daun berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu gugur; beberapa cabang meranggas dan tanaman akhirnya mati; jaringan kayu pada batang yang terserang di bawah kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk.
o   Pengendalian: tanaman yang terserang penyakit ini harus dibongkar sampai ke akar-akarnya supaya penyakit tidak menular ke tanaman lain; pencegahan harus secara terpadu; bibit dan alat-alat pertanian harus bebas dari kontaminasi bakteri dan karantina tanaman dilakukan secara konsekuen.

3.2.2.3  Bunga dan buah busuk

o   Penyebab: Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Pestalotiopsis sp. --> Gejala: kulit buah hitam dan busuk.
o   Penyebab: Pestalotiopsis sp, Colletrichum sp, Pestalotiopsis sp., Botryodiplodia sp., Fusarium sp. --> Gejala: permukaan kulit buah & kulit biji, kering kecoklatan & pecah-pecah, bunga & tangkainya busuk.
o   Penyebab : Botryodiplodia sp. , Fusarium sp., Pestalotiopsis sp. -- > Gejala: kulit biji busuk dan hitam.
o   Pengendalian: perlu dilakukan secara terpadu; untuk memberantas jamur parasit ini beberapa fungisida yang efektif adalah Dithane M-45, Delsene MX 200, Difolan 4F, Cobox, dan Cuproxy Chloride.

3.3              Panen

Panen buah mete umumnya dilakukan dengan memetik buah-buah yang telah masak dipohon (selektif) atau memungut buah-buah yang telah gugur di tanah tetapi sudah matang (lelesan). Pemetikan buah mete ini tidak dapat dilakukan sekaligus karena buah mete tidak masak secara bersamaan, pemetikan dapat dilakukan setiap 3 – 5 selama 2 – 3 bulan tergantung pada banyaknya buah. Buah-buah yang telah mencapai derajat kemasakan yang optimal ditandai dengan penampakan fisik buah semu seperti buah semu berwarna merah cerah jingga atau kuning, daging buah semu jika dipijit sudah agak terasa lunak, dan buah telah berumur 60 – 70 hari sejak bunga mekar. Perkiraan panen pada umur 3-4 Thn 2-3 kg/pohon dan meningkat 15-20 pada umur 20-30 thn.


3.4              Penanganan Pasca Panen

3.4.1 Pemisahan buah dari tangkai

Biji mete harus dipisahkan dari buah semunya. Cara memisahkannya biji mete cukup dengan cara dipuntir kemudian ditaruh di tempat terpisah, setelah itu biji mete tadi dicuci untuk membersihkan segala kotoran yang menempel.

3.4.2    Sortasi dan grading jambu mete

Biji-biji mete yang telah dipisahkan dari buah semunya harus segera disortasi yaitu pemisahan antara biji yang baik dan biji mete yang rusak dan sekaligus dilakukan grading yaitu pengelompokkan biji mete yang berukuran besar dan kecil. Tujuan keduanya adalah untuk menyeragamkan ukuran agar memudahkan proses pelembapan, penggorengan dan pemecahan.

3.4.3        Pengeringan biji mete

Biji mete yang telah dipetik masih memiliki kadar air sekitar 25%, oleh karena itu biji mete yang telah di panen tersebut segera dikeringkan untuk mempertahankan kualitas biji. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara dijemur di bawah panas matahari dengan dihamparkan di lantai jemur, pengeringan biji mete dilakukan hingga kadar airnya mencapai 5 %.

3.4.4        Penyimpanan biji mete glondongan

Biji-biji mete yang telah kering harus segera disimpan dengan baik agar kualitas biji tersebut tetap baik. hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyimpan biji mete gelondong adalah suhu udara dan kelembapan udara di dalam tempat penuimpanan.


3.4.5        Pelembapan biji mete

Biji mete yang telah dikeringkan dan disimpan umumnya memiliki kadar air 5%, biji tersebut bila akan dipecah untuk diambil kacang metenya harus digoreng terlebih dahulu, namun sebelum di goring biji mete yang memiliki kadar air rendah harus dinaikkan lagi kadar airnya hingga batas optimum sekitar 16%, peningkatan kadar air biji mete dilakukan dengan cara pelembapan. Lama proses pelembapan bervariasi antara 24 – 48 jam (1 – 2 hari) tergantung pada besarnyaukuran biji mete, kadar air dikehendaki,dan proses pelembaban yang digunakan.

3.4.6        Pengambilan kacang mete

Kacang mete merupakan bagian yang dikonsumsi. untuk mengambil kacang mete kulit mete dipecah atau dikupas. Pengupasan kulit mete dapat dilakukan secara mekanis, semi mekanis, atau secara manual.

3.4.7        Pengeringan kacang mete

Kacang mete yang telah dipisahkan dari kulitnya dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai sekitar 3%.Pengeringgan kacang mete ini bertujuan untuk memudahkan pengelupasan kulit dari kacang mete dan mencegah dari serangan jamur,danhama,serta meningkatkan daya tahan.

3.4.8        Pengupasan kulit ari

Pengupasan kulit ari kacang mete dilakukan segera setelah pengeringaan. Pengupasan kulit ari kacang mete yang dilakukan secara manual dapat dikerjakan dengan penggesekan menggunakan jari tangan secara hati-hati atau menggunakan pisau jika sulit dilakukan dengan tangan.


3.4.9        Pelembapan mete

Sebelum dikemas kacang mete yang telah dikeringkan dengan kadar air 3% harus dilembabkan hingga mencapai kadar air 5%.Pelembapan kacang mete dilakukan dengan menyimpannya di dalam ruang pelembab secara beberapa jam.

3.4.10    Pengemasan

Untuk mencegah kerusakan kacang mete perlu dikemas dengan baik. Pengemasan selain melindungi kacang mete dari kerusakan serangga, bertujuan untuk melindungi kerusakan mekanis karena penggangkutan atau kerusakan fisiologis karena pengaruh lingkungan seperti suhu dan kelembapan.

3.4.11    Penyimpan kacang mete

Dalam penyimpanan ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti ruang gudang penyimpangan harus selalu bersih,memiliki konstruksi yang kuat,pintu-pintu yang rapat,memiliki ventilasi, memiliki penerangan,penantaan peti kemas harus disusun secara teratur,suhu udara dalam gudang di usahakan selalu konstan (30oC- 370C).

3.4.12    Pemasaran hasil

Pasar kacang mete sangat luas mulai dari tingkat rumah tangga hingga tingkat industri makanan. Faktor penting dalam memasarkan hasil panen kacang mete adalah mendapatkan harga yang tinggi. Pemasaran kacang mete dengan jalur pemasaran yang pendek dapat menguntungkan semua pihak yaitu petani produsen, lembaga pemasaran, dan konsumen.


BAB IV
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Menurut Nunung (2000), usaha budidaya tanaman jambu mete yang harus perhatikan adalah: 1) persiapan lahan; 2) waktu tanam; 3) pemeliharaan; 4) pemupukan; 5) pengairan dan; 6) pemangkasan.
Adapun pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jambu mete antara lain:
1.      Hama : 1) Ulat Kipat dapat dikendalikan dengan insektisida symbush 50 EC atau pemicidin; 2) Helopeltis dapat dikendalikan dengan teknik bercocok tanam; 3) Ulat Penggerek Batang dapat dikendalikan dengan cara ditangkap atau diolesi larutan BMC; 4) Penggerek Buah dan Biji saat ini belum didapat cara pengendaliannya namun hama ini dapat dibasmi secara mekanis dan kimiawi.
2.      Penyakit : 1) Penyakit Layu dapat dikendalikan dengan  memperbaiki lingkungan pembibitan atau penyemprotan Dithane M45; 2) Daun Layu dan Kering dapat dikendalikan dengan cara membongkar tanaman sampai ke akar-akarnya supaya tidak menular ke taman lain; 3) Bunga dan Buah Busuk dalam pengendaliannya perlu dilakukan secara terpadu.

Panen buah mete umumnya dilakukan dengan memetik buah-buah yang telah masak atau memungut buah-buah yang telah gugur (matang) dari pohonnya. Buah-buah yang telah mencapai derajat kemasakan yang optimal ditandai dengan penampakan fisik dan buah telah berumur 60 – 70 hari sejak bunga mekar.

Untuk penenganan pasca panen ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan adalah: 1) Pemisahan Buah dari Tangan; 2) Sortasi dan Grading Jambu Mete; 3) Pengeringan Biji Mete; 4) Penyimpanan Biji Mete Gelondongan; 5) Pelembapan Biji Mete; 6) Pengambilan Kacang Mete; 7) Pengeringan Kacang Mete; 8) Pengupasan Kulit Ari; 9) Pelembapan Mete; 10) Pengemasan; 11) Penyimpanan Kacang Mete dan; 12) Pemasaran Hasil.
5.2  Saran
Tanaman jambu mete memiliki potensi untuk dibudidayakan karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani serta menjadi konservasi tanah dan air. Disarankan agar dilakukan praktek tentang budidaya jambu mete dengan pemberian pupuk organik.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005. Teknik Budidaya JambuMete. Lokakarya, Bandung.
Cahyono B, 2005. Manfaat Jambu Mete. Tarat, Baandung.
Nunug, 2000. Budidaya Jambu Mete. Bina Aksarah, Jakarta.
Pitojo, 2005. Konserfasi lahan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sarwanto Adi, 2003. Meningkatkan Produksi Kacang-Kacangan. Penebar Swadaya, Jakarta.